Selasa, 2/9/2010
Cari berita :
Artikel Fitur Intip Film
Because I Said So: Dominasi Single Parent
26 April 2007
Artikel Telah dibaca 2217 kali

Seorang ibu tentu punya andil dalam membesarkan anaknya. Apalagi jika ia seorang single parent. Tak jarang ia punya rasa was-was ketika sang anak sudah beranjak dewasa dan sedang menuju tahap pernikahan. Tugas semacam pilih-pilih calon pasangan adalah penting dan tak boleh diabaikan begitu saja. “Turuti kata Ibu, niscaya kamu akan memperoleh yang terbaik,” begitu kira-kira yang selalu diinginkan Daphne Wilder (Diane Keaton) kepada anaknya Milly (Mandy Moore). 

 

Tingkah laku ibu-anak ini mungkin terlihat aneh. Si ibu ingin anaknya punya pacar tapi selalu menghalanginya sendiri karena melihat anaknya punya kebiasaan buruk (tertawa seperti keledai ketika grogi). Milly yang kian beranjak dewasa pun kelimpungan menghadapi sikap ibunya. Sementara itu, kedua kakaknya, Maggie (Lauren Graham) dan Mae (Piper Perabo) sudah menikah. Meski aneh, tingkah sang ibu ini sering kita jumpai dalam realitas hidup. Tingkah yang terlalu was-was itu malah membuat anaknya tak kunjung menikah sampai akhirnya terlanjur lanjut usia.

 

Dalam Because I Said So, sutradara Michael Lehmann menggabarkan usaha seorang ibu yang ingin mencarikan anaknya calon suami dengan membuat pertemuan kontak jodoh. Karakter Nyonya Daphne ini pun terkesan perfeksionis. Satu demi satu, ia mewawancarai para pelamar. Namun beruntung, setelah sekian wawancara, ia berhasil menemukan calon buat Milly. Ia adalah seorang arsitek bernama Jason (Tom Everett Scott). Dan seperti mudah ditebak, kriteria semacam kaya, dan perpendidikan adalah dua hal penting dari calon suami Milly ini.

 

Di saat bersamaan, Nyonya Daphne pun bertemu dengan Johnny, seorang gitaris yang kebetulan sedang pentas di tempat ‘seleksi’ jodoh itu. Bolehlah ditebak, tokoh ini menjadi semacam pembangun konflik. Baik Johnny dan Jason pada akhinya, memang, ‘berperang’ memperebutkan hati Milly.

 

Cara mengatasi dominasi ibu (selain memusuhinya)

Sikap perfeksionis Nyonya Daphne tentu membuahkan rasa kesal yang terpendam di ketiga anaknya. Suatu waktu, rasa kesal itu pun meledak. Hal-hal yang dulu ia anggap baik-baik saja ternyata berbuntut makian dari ketiga anaknya. Pada intinya mereka semua kecewa karena Daphne terlalu turut-campur kehidupan pribadi ketiga anaknya.

 

Emosi boleh saja meluap. Tapi Daphne tetaplah ibu bagi ketiga anaknya. Maka ketika si ibu ini merasa dijauhi, tetap saja ada semacam cooling down. Ia akan dirawat di salah satu tempat tinggal anaknya. Kali ini giliran Milly yang menampungnya. Pada saat menginap inilah akhirnya mereka berdua menemukan inti permasalahannya, sesuatu yang ternyata selama ini tidak dimiliki kedunya, terutama Daphne sendiri: keikhlasan

 

Mungkin terdengar sedikit tabu, namun Daphne ternyata tidak pernah merasa klimaks saat berhubungan suami-istri (ketika ayah Milly masih ada). Lain kasus, Milly yang kemudian memilih pacaran dengan dua orang tersebut (Jason dan Johnny) pada dasarnya ingin memilih Johnny sang musisi meski sudah memiliki seorang anak (dan bukan orang kaya).

 

Budaya Tabu yang Dimaklumi

Pangkal cerita ini mungkin sudah bisa ditebak. Tapi kisah drama karya Karen Leigh Hopkins dan Jessie Nelson bisa menjadi gambaran bagi keluarga-keluarga modern. Maksudnya, modern ini ada kaitannya dengan budaya barat, ketika ibu dan anak bisa bicara blak-blakan mengenai kehidupan seksnya. Contohnya saja, Ny. Daphne coba mencari kepuasan orgasmenya pada seseorang yang sebayanya. Dan hal itu ditampilkan begitu saja.

 

Bukan bermaksud mendeskriditkan budaya barat, namun dalam kaca mata ketimuran, cerita ini boleh dibilang bersisian dengan kebudayaan timur dan dianggap tabu. Tapi dibalik semua itu, kita bisa melihat bagaimana usaha seorang single parent dalam membesarkan anak-anaknya, mendidik anak-anaknya, hingga menguak alasan mengapa seorang single parent bisa sedemikian protektif kepada anak-anaknya. Dim

 

Home | B2B | Supermarket | Berita | Tabel | Search | Komunitas
About Us | What's New | Partners | Karir | Pasang Iklan | Help

Copyright 2003 - 2010 Otogenik.com. PT. Mega Matra Sejahtera