|
||
|
||
| |
|
|
![]() |
![]() |
![]() |
|
![]() |
|
Artikel
Fitur Intip Film Because I Said So: Dominasi Single Parent 26 April 2007 Artikel Telah dibaca 2217 kali
Tingkah laku ibu-anak ini mungkin terlihat aneh. Si ibu ingin anaknya punya pacar tapi selalu menghalanginya sendiri karena melihat anaknya punya kebiasaan buruk (tertawa seperti keledai ketika grogi). Milly yang kian beranjak dewasa pun kelimpungan Dalam Because I Said So, sutradara Michael Lehmann menggabarkan usaha seorang ibu yang ingin mencarikan anaknya calon suami dengan membuat pertemuan kontak jodoh. Karakter Nyonya Daphne ini pun terkesan perfeksionis. Satu demi satu, ia mewawancarai para pelamar. Namun beruntung, setelah sekian wawancara, ia berhasil menemukan calon buat Milly. Ia adalah seorang arsitek bernama Jason (Tom Everett Scott). Dan seperti mudah ditebak, kriteria semacam kaya, dan perpendidikan adalah dua hal penting dari calon suami Milly ini. Di saat bersamaan, Nyonya Daphne pun bertemu dengan Johnny, seorang gitaris yang kebetulan sedang pentas di tempat ‘seleksi’ jodoh itu. Bolehlah ditebak, tokoh ini menjadi semacam pembangun konflik. Baik Johnny dan Jason pada akhinya, memang, ‘berperang’ memperebutkan hati Milly. Cara mengatasi dominasi ibu (selain memusuhinya)
Emosi boleh saja meluap. Tapi Daphne tetaplah ibu bagi ketiga anaknya. Maka ketika si ibu ini merasa dijauhi, tetap saja ada semacam cooling down. Ia akan dirawat di salah satu tempat tinggal anaknya. Kali ini giliran Milly yang menampungnya. Pada saat menginap inilah akhirnya mereka berdua menemukan inti permasalahannya, sesuatu yang ternyata selama ini tidak dimiliki kedunya, terutama Daphne sendiri: keikhlasan
Mungkin terdengar sedikit tabu, namun Daphne ternyata tidak pernah merasa klimaks saat berhubungan suami-istri (ketika ayah Milly masih ada). Lain kasus, Milly yang kemudian memilih pacaran dengan dua orang tersebut (Jason dan Johnny) pada dasarnya ingin memilih Johnny sang musisi meski sudah memiliki seorang anak (dan bukan orang kaya). Budaya Tabu yang Dimaklumi Pangkal cerita ini mungkin sudah bisa ditebak. Tapi kisah drama karya Karen Leigh Hopkins dan Jessie Nelson bisa menjadi gambaran bagi keluarga-keluarga modern. Maksudnya, modern ini ada kaitannya dengan budaya barat, ketika ibu dan anak bisa bicara blak-blakan mengenai kehidupan seksnya. Contohnya saja, Ny. Daphne coba mencari kepuasan orgasmenya pada seseorang yang sebayanya. Dan hal itu ditampilkan begitu saja.
Bukan bermaksud mendeskriditkan budaya barat, namun dalam kaca mata ketimuran, cerita ini boleh dibilang bersisian dengan kebudayaan timur dan dianggap tabu. Tapi dibalik semua itu, kita bisa melihat bagaimana usaha seorang single parent dalam membesarkan anak-anaknya, mendidik anak-anaknya, hingga menguak alasan mengapa seorang single parent bisa sedemikian protektif kepada anak-anaknya. Dim | |
Home
| B2B | Supermarket | Berita
| Tabel | Search
| Komunitas
About Us | What's New | Partners
| Karir | Pasang Iklan
| Help
Copyright 2003 - 2010 Otogenik.com. PT. Mega Matra Sejahtera